Seni Pertunjukan Terebang Gebes : Yang Buhun Yang Bertahan

Terebang Gebes merupakan salah satu seni pertunjukan buhun (tradisional) yang bernafaskan Islam. Awal keberadaannya sendiri diperkirakan sejak zaman perkembangan Hindu di Pulau Jawa (sekitar tahun 1800-an). Seperti halnya Terebang Gede yang ada di wilayah Banten, proses perkembangan Terebang Gebes di Tasikmalaya sejalan dengan penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Seni buhun yang masih hidup dan bertahan di Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kec. Tanjungjaya (pemekaran dari Kec. Sukaraja) Kabupaten Tasikmalaya ini, diperkirakan sudah berkembang sejak berdirinya Kabupaten Sukapura di bawah kepemimpinan Raden Wirawangsa yang berkedudukan sebagai Wiradadaha I.

Kesenian Terebang Gebes berkembang pesat di masa pemerintahan Raden Anggadipura I sebagai bentuk hiburan yang disukai masyarakat. Beliau merupakan pemimpin yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan sandang pangan masyarakat, tetapi juga sangat memperhatikan perkembangan seni budaya yang ada di wilayah Kabupaten Sukapura, termasuk Terebang Gebes. Hal ini pula yang kemudian menyebabkan bermunculannya rombongan kesenian Terebang di wilayah Sukapura. Hingga saat ini, kelompok seni Terebang yang masih bertahan di Tasikmalaya hanya Terebang Rudat di Desa Cibalanarik, Kec. Tanjungjaya; Terebang Sejak di Kec. Salawu, serta Terebang Gebes juga Terebang Sejak yang ada di Desa Cikeusal, Kec. Tanjungjaya. Continue reading “Seni Pertunjukan Terebang Gebes : Yang Buhun Yang Bertahan”

Manfaat Jatuh Cinta

Jatuh cinta, berjuta rasanya…Demkian lirik sebuah lagu yang menggambarkan perasaan orang yang sedang falling in love. Berjuta rasa itu memiliki efek luar biasa terhadap fisik dan psikis seseorang. Kecenderungan umum orang yang sedang jatuh cinta adalah terlihat bahagia dan sumringah. Selain efek tersebut, ada beberapa manfaat jatuh cinta yang secara langsung berkaitan dengan kesehatan seseorang.
Pertama, Jatuh cinta membuat kita terlihat awet muda. Disadari atau tidak, jatuh cinta biasanya sangat berpengaruh terhadap proses penuaan kita. Penelitian yang dilakukan di Royal Edinburgh Hospital di Skotlandia menunjukkan hasil bahwa jatuh cinta membuat kita awet muda. Para wanita yang melakukan hubungan seks sebanyak empat atau lima kali selama sepekan, akan terlihat 10 kali lebih muda dari usia sebenarnya. Konsultan neuropsychologist Dr. David Weeks mengatakan, pasangan yang saling mencintai, tidak hanya terlihat memiliki bentuk tubuh yang lebih baik, namun juga berpengaruh terhadap kondisi fisik dan emosional.
Kedua, meningkatkan kesehatan mental kita. Cinta memberikan sejumlah keuntungan bagi kesehatan tubuh kita, termasuk dapat meningkatkan kesehatan mental bagi para wanita maupun pria yang sedang menjalin hubungan asmara. Di New Zealand, sebuah tim dari University of Otago melakukan penelitian pada 1000 orang. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang telah menjalin hubungan asmara selama lebih dari lima tahun, akan lebih kecil kemungkinan mengalami depresi maupun melakukan bunuh diri dibandingkan mereka yang jomblo.Penelitian lain memberikan hasil bahwa orang-orang yang menikah, memiliki level yang lebih rendah untuk mengalami depresi dan stress dibandingkan mereka yang jomblo.
Ketiga, Cinta membuat kita lebih sering berulangtahun alias lebih panjanng umur. Jatuh cinta akan membuat kita berulangtahun lebih dari sekali dalam setahun. Namun bukan berarti kita akan benar-benar berulang tahun. Penelitian membuktikan bahwa angka kematian pria jomblo berusia 30 hingga 59 tahun, dua setengah kali lebih tinggi dibandingkan dengan pria non-jomblo!Angka kematian para wanita jomblo juga 23 persen lebih tinggi dibanding dengan para wanita menikah. Para peneliti menyatakan, ini karena para orang yang jomblo memiliki kesehatan yang jauh lebih buruk, pendapatan yang lebih rendah, dan terisolasi secara sosial. Dukungan dari orang lain akan membantu kita menjaga kesehatan.
Keempat, Cinta sembuhkan penyakit jantung. Mungkin hanya kebetulan saja, bahwa cinta digambarkan dengan simbol jantung. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di University of Rochester di New York, memberikan hasil bahwa hubungan asmara yang bahagia akan memberikan ketahanan jantung yang tiga kali lebih baik. Penelitian membuktikan bahwa pernikahan yang baik, akan memberikan keuntungan bagi kesehatan jantung, seperti mau berhenti merokok, menjaga berat badan, dan memperkecil risiko serangan darah tinggi. Penelitian lain yang dilakukan di University of North Carolina, dan di Human Communication Research. Mereka berdua menemukan bahwa jatuh cinta dapat memberikan dampak positif terhadap kolesterol.

Kehamilan dan Pengaruhnya Terhadap Ibu

Fase-fase kehamilan tak ubahnya seperti sebuah penantian yang mendebarkan. Perasaaan cemas, bahagia, takut dan khawatir seringali mendominasi, bahkan mewarnai berbagai aktivitas fisik dan psikis sang ibu. Hal ini disebabkan banyaknya perubahan yang dialami ibu hamil, baik secara fisik maupun kondisi emosional.
Bagi sebagian besar ibu hamil, trimester pertama merupakan fase yang cukup berat. Bisa dikatakan ini fase adaptasi dengan segala perubahan tersebut. Mual, moody, gampang marah, sensitif, muntah-muntah menjadi ciri umum yang dialami ibu hamil, terutama yang baru pertama kali hamil. Kondisi seperti ini pulalah yang mungkin menyebabkan ibu hamil muda menyukai makanan pedas asam, seperti rujak atau asinan. Ngidam, begitu istilahnya.
Keinginan untuk memakan makanan tertentu atau melakukan hal-hal tertentu yang kadang-kadang dianggap “aneh” memang sering muncul begitu saja. Sulit dipahami memang, tetapi seperti itulah adanya. Kalau dituruti maunya mood ngidam, bisa berabe dan mungkin membuat orang lain jengkel. Di sinilah perlunya kontrol emosi yang baik dari ibu hamil, serta pengertian dan dukungan dari orang-orang terdekat, khususnya suami.
Perubahan bentuk fisik juga sering menyebabkan bumil tidak pede. Mayoritas bumil tidak pede dengan penampilan fisik yang “kuranng sedap dipandang”. Tapi, bagi bumil lainnya cuek saja, bentuk fisik yang berubah “ndut” tak jadi masalah. Justru hal itu menjadi berkah tak ternilai. Menjalani masa kehamilan seberat apapun justru anugerah bagi seorang perempuan. Serasa sempurna secara kodrat dan mendapatkan kepercayaan dari Sang Pemberi Kehidupan.
Bersyukur dan bersabar,berpikir positif, serta terus memperhatikan dan menjaga kesehatan janin dalam kandungan merupakan cara tepat menghadapi kehamilan.

Cara Menghilangkan Iri Hati

Iri Hati Tanda Tak Mampu?
Hati-hati dengan kondisi hati yang satu ini. Jika salah mengelola, rasa iri bisa menjadi penyakit hati. Mengganjal, menjalar, menyerap, lalu mengendap menjadi kebencian dan dengki. Kalau sudah pada tataran dengki, biasanya dengan mudah oranng akan senang mencaci maki, mudah menghakimi, dan yang paling menyeramkan menebar fitnah demi memuaskan kedengkian dan kebencianya.Naudzubillahi min dzalik.
Kebanyakan penyakit hati diawali oleh rasa iri yang tak terkendali. Ciri utama kita sudah terjangkit penyakit iri, biasanya diawali dengan rasa kesal, marah dan ingin menghancurkan jika orang lain mendapatkan kebahagiaan. Merasa puas dan senang jika orang lain mendapatkan kesusahan, bahkan tidak sedikit yang secara terang-terangan mengumbar kedengkiannya. Tak lagi peduli dengan pikiran dan perasaan orang yang jadi “target” rasa irinya. Fase ini disebut fase penyakit hati “hasud”, yang secara sederhana bisa diartikan senang melihat orang lain menderita.
Tak salah jika banyak orang mengungkapkan “sirik itu tanda tak mampu”. Ketika kita tak mampu melakukan sesuatu seperti yang orang lakukan, tak bisa mendapatkan yang orang lain dapatkan, sedangkan kita menginginkannya, di situlah rasa iri mulai tumbuh. Jika terus dijaga dan dipelihara dalam kebencian, maka akan melahirkan rasa dengki, sikap hasud dan perilaku keji. Tak mampu disini bisa diartikan sebagai tak mampu mengendalikan rasa iri itu, sehingga menjurus kepada banyak hal negatif. Apakah, rasa iri bisa dimanfaatkan secara positif?
Sejatinya, setiap hal memiliki sisi positif dan sisi negatif. Tugas kitalah untuk memilah dan memilih sisi yang terbaik, serta memanfaatkannya untuk kebaikan kita sendiri. Jika dikelola dengan kebesaran hati, rasa iri yang biasanya ada pada diri setiap manusia (tentu saja kadarnya berbeda-beda) bisa menjadi energi positif yang memotivasi orang untuk meningkatkan kemampuannya, upayanya dan kepasrahannya. Dengan kata lain, rasa iri bisa menjadi pembanding untuk lebih berintrospeksi diri. Mengukur kemampuan diri, mengakui kelebihan orang lain dan menyadari kelemahan diri secara objektif.
Lalu, apakah rasa iri bisa dobati?
Tentu bisa, asalkan punya keinginan kuat untuk memperbaiki diri dan hati. Yang namanya penyakit dalam hati, obatnya tentu ada dalam hati juga. Artinya, hati kita harus betul-betul sering men-scanning dan membersihkan hati dari berbagai virus hati yang berbahaya.Pertama, pasang alarm awareness (kesadaran), bahwa kemampuan, rezeki dan nasib seseorang ada yang lebih menentukan. Yang dimiliki orang lain, belum tentu pantas dan baik untuk kita, begitupun sebaliknya. Kedua, pasang antivirus kebesaran hati , mungkin semua yang dimiliki orang lain telah sesuai dengan optimalisasi atau maksimalisasi upaya dan do’anya dan itu yang terbaik untuknya. Kadang-kadang, sesuatu yang besar pun sedang menanti ikhtiar dan kesungguhan kita untuk mencapainya. Ketiga, sering-sering meng-upgrade perasaan dengan rasa syukur, menyuntikkan imun keikhlasan dan qonaah (menerima apa adanya dengan tetap berikhtiar untuk memperbaikinya), serta membuka cakrawala berpikir bahwa masih banyak peluang yang bisa kita manfaatkan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Keempat, be positive.Berbaik sangka (khusnudzan), berpikir positif dengan menjadikan rasa iri itu sebagai motivasi untuk meningkatkan kualitas diri supaya lebih baik daripada orang yang kita irikan, memunculkan potensi diri dan mengembangkannya, serta menanamkan keyakinan bahwa kita bisa kalau kita benar-benar mau dan Allah SWT menghendaki. Kelima, keep down to earth. Belajarlah untuk membumi karena kaki kita berpijak pada bumi dan di bumi banyak pembelajaran. Jangan selalu melihat ke atas, sehingga kita lupa hakikat hidup yang sebenarnya. Kalaupun kita sesekali melihat ke atas, bukan semata-mata karena kebencian dan dendam, tetapi karena menyadari bahwa di atas ada pembelajaran Yang Maha Tinggi.

Cara Menerima Kritikan

Hampir semua orang tidak ada yang senang dikritik. Kritik seringkali diinterpretasikan sebagai serangan atau ancaman. Sebuah pernyataan keras dan tajam mengenai diri dan kemampuan kita mungkin saja menyakitkan. Namun, seberat apapun kritik harus tetap dihadapi. Gimana cara menghadapinya?
Pertama, terimalah kritikan itu dengan tulus. Reaksi awal kita pasti sulit menerimanya, bersikap defensif dan melakukan pembelaan diri. Jika kita tulus menerima kritikan, respon kita tentu berbeda (saya sendiri masih sering “panas” menghadapi kritikan orang). Jika kita tulus, kita bisa merenungkan kritikan tersebut dan bila memang harus, kita bisa mengubah diri. Perlu diingat, tujuan dasar kritik bukan untuk menjatuhkan atau menghancurkan, tetapi memberikan penilaian dan pandangan yang berbeda mengenai sesuatu, menambahkan yang kurang dan memperbaiki kelemahannya. Akan tetapi caranya memang sedikit berbeda dengan menyampaikan pendapat biasa.
Kedua, dalam menghadapi kritikan, pikiran harus tetap terbuka, dan tidak mengedepankan sikap emosional. Ketegasan dan pembelaan diri tetap perlu supaya kita tidak cepat menyetujui atau menolak kritikan tersebut. Kalau perlu, mintalah pengulangan terhadap orang yang mengeritik agar kita fokus dan betul-betul paham maksud yang sebenarnya. Mintalah waktu untuk merenungkannya dengan tetap mengucapkan terima kasih atas kritikannya tersebut. Sikap legowo yang kita tunjukkan justru mencerminkan ketangguhan.
Ketiga, bersabar dan bersyukur. Kritik yang diungkapkan orang bisa saja berupa perhatian terhadap kita. Tidak sedikit orang yang mengeritik karena memang paduli dan ingin kita menjadi orang yang lebih baik. Hal inilah yang patut disyukuri.
Menuliskan memang lebih mudah daripada menjalankan, tetapi belajar melakukan yang baik tidak boleh berhenti, kan? Setajam apapun kritikan, insya Allah tidak akan membuat kita hancur.

Cara Menghadapi Stag Mandeg Blank

Stag, mandeg, blank atau apapun istilah lainnya pasti pernah dialami siapapun. Kondisi pikiran, situasi perasaan dan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari seringkali membuat kita merasa tidak bisa berbuat apa-apa alias stag. Hal ini merupakan kondisi wajar karena tidak setiap saat otak dan hati kita berada dalam kondisi prima,full of energy, dan focus.

Mandeg atau stag bisa diartikan sebagai indikasi terhentinya proses kontinuitas berpikir dan beraktivitas secara sementara (temporary). Faktor pemicunya umumnya karena lelah, baik fisik maupun psikis yang membuat seseorang merasa kehilangan semangat, kebuntuan ide atau kehilangan gairah dalam melakukan sesuatu. Kelelahan fisik karena terkurasnya tenaga untuk beraktivitas biasanya lebih cepat pulih. Jika bukan karena penyakit tertentu yang kronis, lelah bisa dipulihkan dengan istirahat, makan, minum suplemen atau berolahraga ringan. Sedangkan lelah psikis membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kembali “fresh”. Pikiran dan perasaan memang memiliki jaringan yang cukup rumit untuk dipahami dan dianalisa, sehingga seringkali kondisi stag ini membuat kita merasa “have no idea” bahkan malas beraktivitas. Diperlukan kolaborasi yang solid antara fisik dan psikis untuk memulihkannya. Mulai dari memahami masalah yang membebani pikiran dan perasaan hingga menemukan solusi terbaik. Hal ini tentu membutuhkan konsentrasi, focus dan ketenangan suasana. Apa lagi jika kita termasuk tipe orang yang sensitif, gampang stress dan mudah menyerah pada keadaan, masalah apapun bisa saja membuat kita merasa stag, blank dan mogok beraktivitas.

Gimana cara mengatasinya?

Continue reading “Cara Menghadapi Stag Mandeg Blank”