Arti Menangis bagi Penderita Reflex Anoxic Seizure (RAS)

Share:

Menangis merupakan fitrah yang melekat pada diri manusia, bahkan bagi para balita menangis merupakan pertanda kebutuhan, bisa rasa lapar, takut atau butuh perlindungan dan dekapan kasih sayang orang tuanya. Meskipun tangisan tidak serta merta mengubah suratan, setidaknya menangis bisa melampiaskan emosi dan melegakan perasaan. Namun, di balik manfaatnya itu, menangis memiliki arti lain bagi para penderita Reflex Anoxic Seizure (RAS). Arti menangis bagi mereka adalah bisa memicu dan menyebabkan kematian, sehingga menangis merupakan keadaan yang harus dihindari untuk bisa bertahan hidup.
Duh, dramatis sekali ya? Mengapa bisa terjadi demikian? Kita simak kisah nyata berikut berkaitan dengan arti menangis dan sekelumit penjelasan mengenai Reflex Anoxic Seizure (RAS).

Tianna Lewis McHugh Penderita Reflex Anoxic Seizure (RAS)
Menangis bagi Tianna Lewis McHugh, bocah Inggris berusia 2 tahun yang tinggal di North Wales ini merupakan penderitaan yang bisa menyebabkan kematiannya semakin dekat. Gadis kecil putri pasangan Ceri Lewis dan Andy McHugh itu, secara fisik sama seperti anak-anak seusianya. Bahkan menurut kedua orang tuanya, ia termasuk anak yang hiperaktif, banyak bicara, ceria, cerdas dan sangat aktif. Yang membedakannya dengan anak-anak balita lainnya ialah kondisi dan reaksinya terhadap rasa sakit, ketakutan dan emosinya yang begitu mengkhawatirkan jika ia sampai menangis.

Seperti dilansir news.com.au (9/11/2009), orang tua Tiana menyatakan bahwa ketika Tianna mengalami serangan yang dipicu tangisnya itu mengerikan. Ceri, ibunda Tianna mengaku sangat histeris ketika ia pertama kali melihat putrinya menangis. Tubuhnya menegang, kejang-kejang, kulitnya tampak pucat pasi, jantungnya berhenti berdetak dan Tianna berhenti bernafas. Ceri berpikir anaknya sudah meninggal. Tianna dibawa ke UGD di Rumah Sakit Wrexham Maelor, tetapi dokter tidak dapat mendiagnosa kondisinya. Dua minggu kemudian, kejang kedua berlangsung selama 2 jam, dan Tianna berjuang untuk hidup. Menurut dokter, jika Tianna terlambat ditangani 10 menit saja, ia akan meninggal atau paling tidak menderita kerusakan otak serius.

Menangis ibarat sebuah serangan yang akan merenggut nyawa Tianna. Sejak usia 18 bulan, dan berhasil melewati serangan untuk ke-10 kalinya, Tianna melalui serangkaian proses diagnosa dan perawatan. Hasilnya, Tianna divonis dokter mengidap Reflex Anoxic Seizure (RAS), penyakit kejang-kejang yang mengerikan. Sebuah penyakit langka yang benar-benar bisa berakibat fatal. Tianna mengalami serangan terakhir pada Juli 2009 lalu. Apa sebenarnya penyebab penyakit ini?

Penyebab Reflex Anoxic Seizure (RAS)
Reflex Anoxic Seizure biasanya terjadi karena terhambatnya pasokan darah ke otak. Penyakit ini bukanlah epilepsi, serangan napas yang tertahan atau sesak nafas. Reaksi yang menimbulkan RAS bisa disebabkan oleh adanya rangsangan yang tidak terduga seperti rasa sakit, takut, khawatir, cemas juga bisa disebabkan oleh faktor udara dan air yang terlalu panas atau dingin saat mandi. Faktor pemicu ini bisa menyebabkan jantung berhenti berdetak atau secara dramatis melambat.
Menurut perkiraan para ahli, penyakit ini menimpa 8 dari 1.000 anak usia prasekolah. Anak yang paling banyak menderita penyakit ini adalah usia 6 bulan hingga 2 tahun, namun bisa juga menyerang saat anak tersebut tumbuh remaja atau dewasa. Kecenderungan RAS berhenti di akhir masa kanak-kanak, tetapi kadang-kadang ada yang bertahan hingga awal kehidupan dewasa.

Para penderita RAS bisa saja mengalami pingsan selama lebih dari 1 jam. Setelah pemulihan penderita mungkin akan terlihat sangat emosional dan kemudian tertidur nyenyak selama 2-3 jam, dengan muka terlihat sangat pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Serangan RAS ini dapat terjadi beberapa kali per hari, per minggu atau per bulan. Meskipun anak penderita RAS tampak seperti meninggal dalam sebuah serangan, para ahli medis di Inggris seperti dimuat di laman http://www.netdoctor.co.uk menyatakan bahwa mereka belum pernah mendengar adanya kondisi RAS yang menyebabkan kematian.

Jika saya perhatikan, penyakit RAS ini mungkin mirip dengan “sawan” atau di beberapa daerah di Tanah Sunda disebut “terelek” yang banyak diderita anak-anak batita dan balita. Kondisi dan gejalanya sama dengan yang dialami Tianna, tetapi umumnya, penyakit itu sembuh ketika ipenderita menjelang remaja atau dewasa. Seizure (sawan) merupakan gangguan fungsi otak yang bersifat sementara akibat hyper-synchronous atau pelepasan neuron-neuron kortikal yang berlebihan. Kondisi penderita pada saat terserang sawan ini memang mengerikan dan mengkhawatirkan, seperti akan meninggal.

Bagaimana Mengatasi Reflex Anoxic Seizure (RAS )
Sejauh ini, mengatasi dan menangani RAS lebih difokuskan kepada pencegahan dari pihak orang tua atau keluarga terhadap kestabilan emosi dan kenyamanan suasana bagi anak penderita RAS, tetapi beberapa penelitian menyarankan penggunaan obat atropine. Menurut mereka, atropine ini efektif mengurangi frekuensi serangan RAS. (http://www.netdoctor.co.uk)
Beberapa dokter yang akrab dengan RAS sebagaimana dilansir http://www.stars.org.uk/patient-info menyatakan bahwa diagnosa dan perawatan medis juga memerlukan riwayat medis keluarga, seprti cek EKG dan EEG karena sebagaimana diketahui, RAS berhubungan dengan otak penderita. Di laman situs tersebut juga dikatakan bahwa ada beberapa penanganan yang dapat dilakukan jika terjadi serangan RAS :

  1. Pastikan individu berbaring telentang di lingkungan yang aman dan nyaman, serta pastikan tidak ada yang menghalangi saluran pernafasan.
  2. Bicaralah, perdengarkan suara kita untuk meyakinkan kondisi penderita karena kadang-kadang ia dapat mendengar, tetapi tidak mampu menjawab. Buatlah suasana dan situasi menjadi tenang dan nyaman untuk memulihkan kesadarannya atau menidurkannya bila perlu
  3. Jika keadaan membaik, tidak perlu memanggil dokter. Namun, jika penderita terluka atau memiliki benjolan yang cukup parah, sebaiknya segera meminta bantuan medis dengan tepat.

Di Inggris sendiri, ada beberapa lembaga kesehatan yang menerima konsultasi seputar RAS ini, di antaranya the Reflex Anoxic Seizure Support Group yang dikelola oleh para medis yang meneliti RAS dengan dukungan pemerintah.

Lalu upaya apa saja yang dilakukan kedua orang Tiana dengan kondisi anaknya yang seperti itu?
Semua orang tua, tentu berharap anak-anaknya tumbuh sehat, normal dan berguna. Demikian pula harapan kedua orang tua Tiana. Mereka berharap Tianna tumbuh normal dan berupaya mengembangkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki Tianna di usianya sekarang ini. Karena itu, setiap hari bagi Andy dan Ceri adalah perjuangan dan kerja keras. Selama 2 tahun ini, mereka berupaya untuk menciptakan suasana yang senyaman mungkin bagi Tianna, serta berhati-hati menjaga diri dan perasaan Tianna dari hal-hal yang akan membuatnya terluka, shock dan menangis karena menangis bisa menjadi serangan kematian baginya. Jika Tianna terlihat ingin menangis, maka kedua orang tuanya harus mengibaskan air di wajahnya untuk membuatnya tenang dan terhindar dari shock. Penanganan yang mereka lakukan lebih kepada pencegahan yang bersifat psikologis, sehingga tidak berakibat fatal bagi kondisi putrinya. Semoga upaya keras mereka berbuah manis suatu saat nanti karena anak adalah amanah dan anugerah terindah bagi kehidupan sebuah keluarga. Selalu ada hikmah dan pembelajaran berharga di balik setiap masalah yang dihadapi.

Lalu apa yang dapat kita pelajari dari penderitaan Tianna Lewis? Kita berbagi di tulisan berikutnya. (Nia Hidayati)

Share:

3 Replies to “Arti Menangis bagi Penderita Reflex Anoxic Seizure (RAS)”

  1. Subhanallah, nambah ilmu banget nih, saya baru tahu ada nama penyakit Reflex Anoxic Seizure (RAS), terima kasih atas ilmu yang di share, insya allah bakal sering main ke blog ini, soalnya tadi pas baca2, banyak yg tentang anak…qu pingin banget tau cara mendidik anak dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *