Diary, Menelusuri Lorong Sunyi Sebuah Hati

Seberapa besar pun kekuatan seseorang untuk sendiri, ia membutuhkan tempat berbagi.

diary2 imagesTidak semua jiwa bisa terbuka kepada sesama yang bernyawa. Banyak pribadi yang terkunci di lorong tabir kesunyian dan hanya ingin menikmati sendiri. Untuk meredakan sepi, semua yang dialami tercurah dalam diary. Sebuah diary dapat menjadi tempat curahan hati.

Bagi sebagian orang, diary mungkin hanya sebuah buku yang memuat serangkaian catatan peristiwa yang dialami penulisnya. Sah-sah saja sih, jika memang yang dilihat hanya bentuk fisiknya. Namun, bagi yang suka menulisnya, diary memiliki kedekatan emosional dengan penulisnya. Mengapa? Karena hal-hal yang bersifat rahasia pun bisa ditulis dalam diary. Gak berlebihan kok, kalau orang merasa aman dan nyaman menuliskan segenap perasaan, harapan, keinginan dan semua hal yang dialaminya pada diary. Dijamin safety, asal gak ada yang kurang ajar baca-baca privasi orang. Makanya, umumnya diary itu disimpan di tempat yang paling aman oleh pemiliknya.

Tidak sedikit orang yang menganggap remeh menulis diary, dianggap buang-buang energi atau melankolis. Padahal, manfaatnya juga banyak lho. Pertama, kalau kita mau menelaah sejarah, banyak peristiwa sejarah yang terungkap lewat catatan-catatan pribadi para pelaku sejarah. Contohnya, Tulisan R. A. Kartini “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Tulisan ini, pada awalnya adalah sebuah catatan dan surat pribadi yang berisi curahan perasaanya tentang penindasan dan pengekangan hak-hak kaum perempuan saat itu, serta keinginannya untuk mengubah nasib kaum perempuan agar memperoleh hak yang sama dengan laki-laki, terutama masalah pendidikan. Di kemudian hari, tulisan ini justru menginspirasi banyak hati dan mampu mengubah cara pandang sebuah bangsa terhadap sosok kaum Hawa.

Kedua, menulis diary ternyata merupakan latihan menulis secara kronologis. Banyak yang sudah membuktikan bahwa orang yang suka menulis diary lebih lancar menulis, baik tulisan fiksi maupun non-fiksi. Bisa kita pahami sih, karena menulis diary itu ibarat melaporkan apa yang kita alami, kita anggap penting dan kita rasakan sehari-hari, sehingga ketika membuat tulisan lain susunan kata dan alur yang digunakan lebih runut dan kronologis.

Ketiga, diary merupakan ajang berekspresi sekaligus kebebasan berkarya. Tak perlu khawatir dinilai salah atau takut dicela karena semua yang tertuang adalah gambaran jiwa. Orang akan lebih jujur bercerita pada diary daripada sahabat atau keluarganya. Sebuah cerita hati tentang kesedihan, kebahagiaan, keinginan terpendam bahkan kemarahan tertuang tanpa batasan. Ketika menulis penuh kejujuran, tulisan itu bisa menjadi kekuatan untuk melepas beban yang menekan. Tulisan yang dihasilkan pun biasanya akan membuat penasaran. Mungkin sudah banyak yang pernah membaca buku-buku yang berasal dari catatan harian seseorang. Misalnya, Catatan Harian Lelaki Malam karangan Moammar Emka. Sebuah catatan pribadi kehidupan penulisnya yang dipublikasikan.  Alur ceritanya terasa sangat real, natural dan menarik karena memang isi cerita yang disuguhkan adalah perjalanan nyata hidupnya. Tidak salah jika kemudian para ahli psikologi menyatakan bahwa menulis diary bisa menjadi terapi emosi, alternatif penyembuhan trauma dan bisa menjadikan seseorang sukses karena seseorang bisa me-review, mengevaluasi dan memperbaiki kesalahanserta kekurangan dirinya melalui serangkaian catatan perjalanan hidup dalam diary.

Keempat, diary juga ternyata merupakan kumpulan diksi, gaya bahasa dan bentuk karya sastra. Gaya bahasa hiperbola misalnya, bisa dituliskan tanpa rekayasa ketika si penulis merasakan kesedihan atau kebahagiaan yang mendalam. Demikian pula dengan pilihan kata-kata yang digunakan penulisnya. Kadang-kadang, kita tertegun takjub ketika membaca diary kita sendiri. Ternyata kita bisa menulis, mengolah kata dan memainkan gaya bahasa sesuai dengan apa yang hati kita rasakan tanpa ditutup-tutupi. Jika kita menyadari itu, maka diary pun bisa menjadi ajang berlatih menulis, berbahasa atau bahkan membuat karya sastra.

Yang paling penting dari sebuah diary ialah bahwa kita sebagai penulisnya memiliki arti dan bisa mengenal lebih dekat diri kita sendiri. Kita tahu apa yang kita inginkan, kita mengerti apa yang membuat kita nyaman atau bete, kita paham seberapa besar upaya kita untuk membuat diri kita bahagia bahkan bisa menggambarkan pribadi orang lain sesuai pemahaman kita, dengan me-review diary kita. So, diary itu punya makna yang dalam sebagai buku kehidupan. (Nia Hidayati)

5 Replies to “Diary, Menelusuri Lorong Sunyi Sebuah Hati”

  1. wah nuhun udah mampir di blog bayi abdi teh nia.
    huuff parag pertama keren banget teh, betul teh begitu juga dengan tempat berbagi, tempat berbagi gak bakal berarti kalau gak ada orang kayak tth nia 😀 sori OOT, eh OOT apa OON ya teh? :peace:

  2. klo aku sekarng batu mau mulai nulis sejenis buku harian tapi ini lebis singkat dan padat karena cuma point2nya saja…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *