Menjadi Sahabat Anak

Menjadi sahabat anak merupakan salah satu bentuk pola pengasuhan (parenting) yang dapat diterapkan orang tua dalam pendidikan keluarga. Semua berawal dari rumah. Pola asuh orang tua dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan kepribadian anak karena orang tua merupakan figur pelindung, pemberi dan pemerhati sekaligus role model bagi anak. Dalam kesehariannya, anak-anak tidak hanya membutuhkan figur orang tua. Anak-anak juga membutuhkan sosok sahabat yang bisa menjadi partner dalam dunianya, sehingga ia merasa senang, ceria dan nyaman dengan diri dan lingkungannya. Sebagai orang terdekat anak, orang tua harus bisa berperan, memposisikan diri sebagai sahabat bagi anak. Mengapa demikian?

Setiap manusia, tidak terkecuali anak-anak membutuhkan sahabat dalam hidupnya. Bahkan anak-anak autis diindikasi lebih responsif terhadap orang yang bersikap sebagai seorang sahabat. Sahabat merupakan kebutuhan sekaligus keinginan setiap manusia karena secara alami dan naluriah, manusia membutuhkan orang lain untuk saling memberi, saling mengerti, saling berbagi, saling mengisi dan melengkapi. Dalam persahabatan ada kepercayaan, kebersamaan, kepedulian dan kedekatan hubungan, tanpa mengesampingkan pemahaman dan penerimaan atas kelebihan dan kekurangan sahabatnya. Ibarat matahari, sahabat merupakan energi yang bisa membangkitkan gairah dan semangat anak dalam menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Pengertian dan arti sahabat bagi anak-anak tentu tidak sedalam pemahaman orang dewasa, tetapi ada kesamaan pandangan dasar mengenai kebutuhan akan sahabat tersebut. Kenyataannya, anak-anak seringkali lebih jujur dan natural dalam mengartikan sahabat. Mereka membutuhkan sahabat untuk menemaninya bermain, berinteraksi dan berbagi cerita tentang pengalaman sehari-hari, seperti tontonan yang disukai, kehebatan mainan, bahkan menyatakan gagasan, imajinasi, rasa suka atau tidak suka dengan apa adanya. Sahabat bisa membuat anak lebih terbuka karena posisi mereka sejajar, bisa saling mengisi, lebih betah dan asyik sekalipun sering diselingi pertengkaran. Karena itu, sahabat penting untuk anak karena sahabat membuat mereka belajar dan merasa senang.

Cara menjadi sahabat anak

Dengan memahami hal tersebut, orang tua bisa menempatkan diri sebagai mitra sejajar, partner dan sahabat anak untuk lebih mendekatkan diri dan lebih memahami keinginan dan kebutuhan si kecil. Bagaimana cara efektif menjadi sahabat anak?

  • Pertama, jadilah pendengar yang baik dan aktif untuk anak, sehingga ia merasa dihargai dan dicintai. Sahabat yang baik selalu menyiapkan telinganya untuk mendengarkan sahabatnya. Berikan respon yang positif dan logis ketika anak bercerita atau curhat karena kitalah sahabat terbaik mereka. Ajukan pertanyaan-pertanyaan seputar ceritanya, tetapi jangan sampai membuat privasinya merasa terusik dan terganggu. Berikan anjuran atau pendapat yang bisa ia mengerti sebagai anak-anak, tetapi jangan menekankan keharusan yang bernada perintah atau larangan agar ia tidak merasa didikte, serta mau dan mampu berinisiatif  juga kreatif.
  • Kedua, libatkan diri kita dalam kegiatan dan dunia anak. Seorang sahabat akan berupaya memahami apa yang disukai dan tidak disukai sahabatnya. Sebagai sahabat, orang tua harus mampu menyelami dunia si kecil. Temani dan dampingi anak ketika bermain, pahami kebiasaan-kebiasaan yang ia lakukan saat bermain atau menonton, perhatikan kreativitasnya terhadap mainan dan ajaklah berbicara secara aktif agar kecerdasannya terstimulasi secara efektif. Hal ini memang tidak perlu dilakukan setiap saat, tetapi di saat kita bisa, manfaatkan quality time tersebut untuk lebih dekat dengan si kecil. Dengan melakukan ini, orang tua dapat memahami kelebihan dan kekurangan anak, serta tidak selalu memaksakan kehendak terhadap anak.
  • Ketiga, berikan pujian dan teguran secara jujur, tulus, proporsional dan rasional. Ketika anak berbuat salah, tegur ia dengan sikap tidak menghakimi. Jangan mengekspresikan kemarahan berlebihan yang akan membuatnya tertekan dan merasa direndahkan. Hal ini  akan berdampak negatif terhadap perkembangan kepribadiannya. Berikan pujian untuk setiap keberhasilan yang diraihnya agar ia merasa dihargai dan termotivasi, tetapi jangan berlebihan. Sahabat yang baik akan bersikap jujur, tidak hanya menyenangkan hati sahabatnya, tetapi juga berani menyatakan dan membantu memperbaiki kesalahan atau kekurangan sahabatnya. Sebagai sahabat dan orang terdekat, orang tua memiliki arti khusus bagi anak. Apapun yang disampaikan pasti akan mempengaruhi pikiran dan perasaannya. Karena itu, sampaikanlah kelebihan dan kekurangan anak dengan jujur, tetapi dengan cara yang membuatnya mengerti dan tidak merasa disakiti.
  • Keempat, berikan kepercayaan terhadap anak. Dalam persahabatan ada kepercayaan dan penghargaan atas kemampuan sahabatnya. Sesekali biarkan anak mencoba sendiri hal-hal yang ingin dilakukannya asal tidak membahayakannya, seperti mandi dan makan sendiri atau mencoba permainan baru. Cara ini dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, tidak selalu bergantung kepada orang lain, merasa dihargai dan bisa mandiri. Dengan penghargaan dan kepercayaan, kemampuan kreatifnya pun akan lebih berkembang.

Manfaat menjadi sahabat anak

Keragaman pengalaman orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak akan semakin memperkaya metode parenting, serta cara yang dilakukan untuk menjadi sahabat bagi anak, termasuk cara-cara di atas. Namun, dari semua itu kita dapat mengambil hikmah dan manfaat yang besar bagi proses tumbuh kembang anak. Apa saja manfaatnya?

  • Orang tua semakin memahami sifat dan watak anak, kekurangan dan kelebihan anak, serta kebiasaan baik dan buruk anak, sehingga bisa mengoptimalkan potensi kecerdasannya juga minat dan bakatnya, serta dapat menerima dan memperbaiki kekurangan anaknya.
  • Menjalin komunikasi yang lancar dan harmonis antara orang tua dan anak. Komunikasi yang lancar akan memudahkan orang tua dalam menerapkan pola dan metode pengasuhan dalam pendidikan keluarga. Komunikasi merupakan jalan untuk menumbuhkan pengertian dan kepercayaan, sehingga hubungan orang tua anak lebih terbuka dan harmonis.
  • Mendapatkan kepercayaan dari anak. Kepercayaan ini sangat berarti hingga ia besar nanti. Saat ia menghadapi masalah ia akan menjadikan orang tua sebagai tempat curhat dan berbagi beban.
  • Mempererat hubungan dan memperkuat ikatan batin. Pemahaman, pengertian kepercayaan dan jalinan komunikasi yang lancar merupakan modal utama kekuatan sebuah hubungan, termasuk hubungan orang tua dan anak.

Sahabat adalah tangan yang siap memberi, telinga yang  siap mendengar dan hati yang siap mengerti. Ketika kita mampu memaknai anak sebagai anugerah dan amanah, maka kehadirannya membuat hidup kita menjadi indah. Bersahabatlah dengan anak agar kita bisa memasuki dan memahami dunianya. Semoga bermanfaat. (Nia Hidayati)

2 thoughts on “Menjadi Sahabat Anak

  1. Pingback: Mengatasi Stres pada Anak « Denishevi's Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>